Ketika Semua Demi Dan Untuk Manusia
berbicara tentang letak bahagia banyak sekali manusia yang menuntut kebahagaiaan itu hinggap dihidupnya (menurutku itu manusiawi), namun terkadang dia merasa kalau hanya duka yang mengelilingi dirinya. Kebahagiaan sejatinya dekat dengan kita dan dia berada dihati kita. Banyak orang yang merasa kenapa hidupnya resah, tidak tenang, galau, dan sejenisnya itu bisa terjadi karena kurang ingatnya kita dan kurangnya rasa syukur kepada sang pencipta.
Sebenarnya tidak ada hari atau alasan untuk kita tidak bahagia, karena sejatinya kebahagiaan itu sangat dekat dengan kita, kalau kita mau bersyukur. Maka dari itu jangan lupa setiap harinya selalu ada rasa syukur dalam diri dan hati kita supaya kita tetap bisa bahagia, termasuk mensyukuri apa yang kita miliki saat ini tanpa harus membandingkannya dengan nikmat yang diterima oleh orang lain. Banyak dari kita hidup hanya untuk dan demi manusia, saya pernah membaca artikel yang menjelaskan mengenai tulisan Syaikh Ali Thanthawi tentang ketika semua hidup demi dan untuk manusia.
Syaikh Ali Thanthawi rahimahullah mengatakan :
“Diantara kebiasaanku adalah tidak akan berkendaraan bila aku mampu berjalan kaki. Aku tidak akan berjalan ditempat yang teduh ketika aku mampu berjalan dibawah terik panas. Tidak peduli terik Lebanon di bulan Okktober atau teriknya India di bulan Juni. Saat itu matahari begitu cerah dan panas , aku melepaskan dasiku dan memasukkannya kedalam kantong bajuku. Tiba-tiba aku berpapasan dengan seorang teman, dia adalah kawan yang sangat aku hormati. Namun ada yang tak kusuka darinya yaitu dia lebih keras memegang tradisi disbanding agamanya”.
Belum selesai mengucap salam, dia langsung menatapku dengan tatapan yang tidak mengenakkan dan berkata, “bagaimana bisa anda melakukan ini?”.
Akupun kaget dan aku berkata , “apa yang sudah aku lakukan? apakah aku telah melakukan bid’ah dalam Islam? Atau telah menolong pelaku bid’ah? Atau telah melakukan sebuah kejahatan? Jelaskan padaku….katakan padaku, kabar apa yang sampai padamu tentang diriku? mungkin saja yang menyampaikan kabar itu adalah si fasik atau pembohong. “
Dia menjawab,” tak ada seorangpun yang mengabariku tentangmu, tapi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri” (sambil memberi isyarat kepadaku )
“Apa itu?” tanyaku penasaran
Dia menjawab, “dasi, bagaimana mungkin kau berjalan tanpa menggunakan dasi. Itu tidak pantas bagi seorang konsultan sepertimu. Apa kata orang nanti ?”.
Aku tidak meneruskan percakapan itu. Aku duduk sebentar dan berpikir, kalau begitu berarti kita mengerjakan sesuatu demi dan untuk manusia?.
Kita mencekik diri sendiri dengan mengikatkan dasi ke leher, kemudian rela menahan gerah karena panas matahari dimusim panas , demi manusia?
Untuk apa semua itu?
Untuk kepentingan bersama? Demi Allah Tidak
Untuk meraih pahala dan surga? Demi Allah Tidak
Untuk medapatkan harta? Demi Allah tidak
Kalau beitu lantas untuk apa?
Ya, untuk manusia
Itu tadi sedikit ringkasan tulisan syaikh Ali Thanthawi, Kenapa semua itu untuk manusia ? dianggap baik oleh manusia? Untuk apa kita selalu berpura-pura hanya untuk sebuah anggapan dari manusa? Bahkan ketika semua tak sesuai ekspetasi kita rela melakukan sesuatu hal yang membuat kita merasa tertekan, semua demi manusia, kapan kita bisa hidup untuk diri kita sendiri? Kapan kita bisa hidup menurut batasan syari’at dan akal sehat kita? Sejatinya, hal-hal yang seperti itulah yang membuat hidup kita terkadang terasa berat dan sesak, karena apa? Karena kurangnya rasa syukur kita terhadap nikmat yang Allah berikan.
Mensyukuri apa yang kamu miliki saat ini tanpa harus membanding-bandingkan dengan kehidupan orang lain akan membuat hidupmu tenang dan selalu merasa cukup. Karena semua sudah ada porsinya masing-masing. Bisa jadi kalau kamu mengeluh, hidup yang kamu keluhkan itu adalah hidup yang diinginkan oleh oranglain.
Ketika kamu mengeluh dan memilih bercerita kepada oranglain, sedikit orang yang benar-benar ingin meringankan bebanmu tapi banyak dari mereka hanya sekedar ingin tahu, karena nyatanya tak ada yang mampu mencintai dan mengertimu sebaik Tuhan. Berceritalah kepada-Nya, bersujud, bayangkan dan rasakan ketika Tuhan-mu mengusap kepalamu sembari menenangkan kemudian berkata, “tenang, kamu kuat dan pasti mampu melewatinya” :).
Apa sih yang membuat kita bermuram durja? Patah hatikah? Cinta tak terbalas kah? Atau ada yang lain?, Rasa-rasa yang seperti itu sejatinya diri kita sendiri yang menciptakan, jika memang nyataya tak sesuai ekspetasi dan akhirnya membuat kita tidak bersyukur kepada Allah. Dear, kalian harus yakin bahwa semua itu sudah ada jalan dan endingnya masing-masing. Membuang-buang waktu untuk memikirkan doi yang malah memikirkan orang lain atau membuang-buang waktu hanya agar dianggap baik oleh manusia, duh shaayyy hidupmu terlalu berharga jika hanya memikirkan perihal seperti itu. Bahkan kita pribadi gak tau kan jodoh kita siapa? Si doi yang tak kunjung peka atau malah malaikat pencabut nyawa?
Mari kawanku perbaiki diri, perbaiki niat, mulai mengerjakan pekerjaan-pekerjaan positif. Dan jangan menunggu sempurna baru melakukan kebaikan , Berkumpul dengan orang-orang yang yang mampu mengajakmu melakukan hal-hal yang bermanfaat, sehingga itu tertular kedirimu dan dari dirimu ke orang lain. Berbagi itu indah apalagi jika yang dibagi adalah kebahagiaan.
Sumber : www.academia.edu

Comments
Post a Comment